Kesan Jumpa YUN si MANUSIA SURGAWI 17 April 2010

Seorang gadis kecil yang sudah dua kali membaca buku Manusia Surgawi menyatakan kekagumannya terhadap Yun yang berpuasa 74 hari tidak makan dan minum di penjara. Dengan tenang Yun menanggapi, ”Kekristenan kita tidak diukur dengan kemampuan kita berpuasa seperti itu. Bahkan pada waktu itu, saya mengatakan kepada Tuhan: lebih baik mati saja. Tapi Tuhanlah yang memberi kekuatan dan menentukan kapan harus berhenti berpuasa.” Memang bertemu dengan Yun dengan mata kepala sendiri berarti bertemu dengan seorang Kristen yang sederhana. Pengalamannya yang luar biasa tidak membuat sikapnya menjadi sok pahlawan.

Ketika diangkat kehebatan bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam 51 bahasa sedunia, Yun justru merendah, ”Anda tahu, ketika saya menyusun buku ini muncul dalam hati saya keinginan untuk menyerah. Kalau bukan Tuhan yang memberi visi kepada saya bahwa buku ini akan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, tentu saya telah berhenti menulis buku ini.” Nyatanya, memang banyak orang Kristen (bahkan yang bukan Kristen namun bertobat karena buku ini) bersaksi tentang berkat yang diperoleh saat membacanya. Beberapa ibu yang tidak punya kebiasaan membaca, menceritakan bahwa buku ini tidak lepas dari tangannya sejak mulai membacanya hingga dini hari ketika buku itu habis dibaca.

Seorang Kristen yang terlibat dalam pelayanan kepada para narapidana, Ibu Vina namanya, tak dapat menahan tangisnya saat pertama kali membaca kisah Yun, ”Akhirnya, saya menemukan buku yang benar-benar cocok untuk menguatkan orang-orang dalam tahanan.” Selama dua tahun ini dia terus memakai buku Manusia Surgawi untuk bersaksi kepada para tahanan tentang pengharapan kepada Kristus.

Seorang bapak, yang sudah lama terlibat dalam pelayanan, ingin tahu lebih dalam mengapa Yun disebut Manusia Surgawi. Kisahnya memang ada dalam buku, tapi Yun menceritakan bahwa istilah Manusia Surgawi lazim di Cina. Semua Kristen Cina berharap menjadi Manusia Surgawi sebagai lawan dari Manusia Duniawi. Hanya saja karena suatu peristiwa penangkapan, Yun mulai dikenal para petugas keamanan sebagai Manusia Surgawi. Dan makin terkenal dengan terbitnya buku berjudul Manusia Surgawi. Jadi, bukan Yun ingin dihormati sebagai Manusia Surgawi, bahkan sebaliknya Yun mengakui dirinya belum sepenuhnya surgawi!

Seperti kita semua, dia juga berjuang melawan godaan dan kelemahan. Dan dia menyadari sepenuhnya bahwa tanpa anugerah Yesus Kristus dalam hidupnya, dia sama sekali tidak berarti.  Dia bilang kepada istrinya, Deling, “Kita sama sekali tidak berarti.  Kita tidak punya apa-apa untuk dibanggakan.  Kita tidak punya kemampuan dan tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan kepada Allah.  Faktanya bahwa Dia memakai kita semata karena anugerah-Nya.  Bukan usaha kita. Jika Allah mengangkat orang lain untuk maksud-Nya dan tidak memakai kita lagi,  kita tidak berhak untuk protes.”

Demikian cuplikan laporan dari acara MEET & GREET BROTHER YUN di Toko Buku Immanuel dan kantor Bina Kasih pada hari Sabtu, 17 April 2010.

– arman widya

Manusia Surgawi

Bumi dan bangsa Cina mempunyai kebanggaan tersendiri. Temboknya kekar dan serba misteri. Historisnya faktual dan serba data. Bentaranya patriot sejati lagi tangguh. Salah seorang patriot Cina itu ialah pemuda Yun—si miskin yang murah hati.

Ia—karena imannya dan kesetiaannya—menukil kesaksian hidupnya sebagai fakta sejarah kekristenan dan pembaruan di Cina maupun di belahan Asia lainnya, Eropa, dan Amerika.

Bayangkan, pemerintah dan tentara komunis Cina terus mati-matian membasmi kekristenan di seluruh Cina. Mereka berulang kali dan dengan cara tiba-tiba mengobrak-abrik dan menyiksa umat Kristen itu.

Pemuda Yun adalah saksi mata dan terlibat langsung serta menjadi korban kekejaman komunis. Ia dipenjarakan, disiksa, dihina, diejek bahkan oleh sesamanya yang dianggap sama-sama sebentar lagi akan tiada.

Keterlaluan!

Namun, Yun mendoakan orang-orang yang menyiksa dan menghina dia. Dan dalam satu kesempatan ia bertatap muka dan mendoakan Huang, seorang terpidana mati yang akan dieksekusi.

Apakah terpidana mati itu bertekuk lutut dan menyerah pada pengampunan dan pengasihan Tuhan? Itu adalah salah satu kesaksian riil yang dituturkan dalam buku ini.  Sungguh menyedihkan sekaligus menyeramkan. Itu dialami dan disaksikan oleh terpidana mati Huang sendiri.

Jadi, membaca buku ini sama dengan merasakan dan mengerti jelas apa itu kemiskinan, penghinaan, penyiksaan … dan kekejaman tentara komunis.

Tapi dan yang terpenting dalam riwayat hidup Yun ini, ialah bentangan benang merah yang terus bergetar seturut petikan Roh Kudus dan Kasih Kristus. Inilah yang akan Anda nikmati saat membaca buku ini.
Syalom!

  • Rp 60.000 (edisi biasa)
  • Rp 80.000 (edisi lux)