Sampai di sini

SAMPAI DI SINI TUHAN MENOLONG KITA

“Sampai di sini Tuhan menolong kita.” Itulah pernyataan yang keluar dari mulut Samuel. Bisa dikatakan sebuah kesimpulan dari sebuah peristiwa. Dan memang bukan kesimpulan sesaat. Pernyataan itu merupakan hasil dari sebuah pergumulan panjang.

Perikop yang kita baca tadi memperlihatkan ada rentang waktu dua puluh tahun. Ya, ada jarak waktu dua puluh tahun sejak kekalahan orang Israel di Afek di mana  30.000 orang tentara Israel tewas di tangan orang Filistin. Di antaranya terdapat Hofni dan Pinehas, kedua anak Eli itu. Tak hanya itu, Tabut Perjanjian pun dirampas oleh tentara Filistin.

IKABOD

Pertempuran di hari kedua itu memang mengenaskan. Sebelumnya, di hari pertama, Israel telah kehilangan 4.000 tentaranya. Kata tanya ”mengapa” berkumandang di kalangan Israel. Ya, mengapa mereka kalah. Padahal mereka sungguh memiliki kepercayaan diri yang besar sebelum berperang melawan tentara Filistin. Mereka sungguh tak mengerti, bagaimana mungkin umat pilihan Allah bisa kalah dengan mudah.

Kata tanya ”mengapa” itu pulalah yang membuat mereka membawa tabut perjanjian Tuhan dari Silo ke medan perang. Keputusan diambil dengan pemahaman, tabut tersebut akan membuat mereka menang. Tabut pun diarak. Mereka sungguh yakin menang. Bukankah dengan tabut itu mereka dapat membelah Laut Merah? Sorak-sorai membahana. Kemenangan sudah di depan mata. Bahkan tentara Filistin pun keder menyaksikan tabut itu.

Tapi, Israel kembali kalah. Telak. Tiga puluh ribu pasukan mati sia-sia. Tak hanya itu, tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas. Mereka lupa agaknya, tabut itu adalah tanda kehadiran Tuhan dan bukan Tuhan sendiri. Sesungguhnya, tak ada kekuatan magis apa pun dalam tabut perjanjian itu.

Kata tanya ”mengapa” kembali muncul dalam benak. Jawabnya ada dalam mulut isteri Pinehas, yang baru saja melahirkan anak laki-laki, yang diberi nama Ikabod. Ikabod berarti telah lenyap kemuliaan dari Israel.

Sayang memang. Jawaban kata ”mengapa” ini tidak disadari jauh-jauh hari sebelumnya. Kemuliaan Tuhan hilang dari Israel karena memang orang Israel sendiri tidak merasa perlu menjaganya, bahkan menolaknya. Salah satu contoh terbaik ialah keburukan tindakan Hofni dan Pinehas. Mereka pemimpin Israel, umat Tuhan itu, tapi tidak sungguh-sungguh memuliakan Tuhan. Akhirnya, ya Ikabod—lenyaplah kemuliaan Tuhan dari Israel!

EBEN HAEZER

Nah, setelah dua puluh tahun kekalahan di Afek itulah Israel kembali berseru kepada Tuhan. Menanggapi ratapan orang Israel, Samuel pun berkata, ”Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.” (I Sam. 7:3).

Samuel menegaskan bahwa kemuliaan Tuhan telah lenyap karena mereka sendiri telah melenyapkan kemuliaan Tuhan itu dari diri mereka sendiri. Kemuliaan Tuhan telah lenyap karena mereka sendiri tak sanggup hidup kudus sebagai umat Allah.

Jadi, kalau mau ditolong Allah, tidak ada jalan lain kecuali bertobat. Artinya: berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati. Mereka harus membuang allah lain dalam hati mereka dan hanya menujukan hati mereka hanya kepada Tuhan dan beribadah kepada Tuhan. Singkatnya: mereka harus kembali bersikap sebagai hamba Tuhan. Tentu tak hanya dengan kata, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perbuatan.

Dan itulah yang dilakukan Israel. Di Mizpa itu orang Israel menimba air dan kemudian mencurahkan ke hadapan Tuhan. Menurut F. L. Baker tindakan menimba air dan mencurahkannya mengibaratkan Israel yang sedang mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan sambil mengaku dosa dan kesalahan mereka. Mereka juga berpuasa sebagai tanda pengakuan dosa.

Orang Filistin yang mendengar bahwa orang Israel berkumpul di Mizpa mengira bahwa Israel hendak melakukan pemberontakan. Dengan pasukan tempurnya mereka hendak menggerebek orang-orang Israel yang sedang berkumpul itu. Hal itu tentu saja membuat gentar hati orang Israel. Lalu kata orang Israel kepada Samuel: ”Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada TUHAN, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu.” (I Sam. 7:8)

Ketika Samuel berseru kepada Tuhan, Tuhan pun menjawab dia. Tuhan pun menjawab seruan Israel. Israel menang karena Allah sendirilah yang berperang bagi mereka. Kemudian, sebagaimana catatan penulis, Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: “Sampai di sini TUHAN menolong kita.” (I Sam. 7:2-12).

SAMPAI KAPAN?
”Sampai di sini Tuhan menolong kita.” Sekali lagi, itulah pernyataan sekaligus pengakuan iman Israel. Sampai di sini. Ya, mengapa hanya sampai di sini? Mengapa Samuel tidak berkata: ”Selama-lamanya Tuhan menolong kita.”? Mengapa hanya sampai di sini?

Saya menduga, Samuel memang tidak ingin bertindak gegabah. Samuel tahu betapa tidak konsistennya bangsa Israel itu. Kalau susah, berseru kepada Tuhan; kalau doanya dijawab, haleluya berkumandang; setelah itu, lupa…. Lalu, susah lagi, berseru lagi, haleluya lagi, dan lupa lagi!

”Sampai di sini Tuhan menolong kita.” Seterusnya tergantung apakah Israel ”mampu ditolong” oleh Tuhan atau tidak? Sengaja saya kutip frasa peninggalan Bapak Oppusunggu, guru saya, dalam renungan ini. Sengaja pula saya tidak menggunakan frasa ”mau ditolong”, tetapi ”mampu ditolong”.

Kalau cuma mau ditolong, banyak orang yang ingin ditolong. Tetapi, tak banyak orang yang mampu ditolong. Dalam kisah Israel tadi jelas. Dua puluh tahun lalu mereka mau ditolong, tetapi mereka tetap hidup dalam kejahatan mereka. Dan di Eben Haezer itu, mereka tak sekadar mau ditolong, tetapi mampu menolong diri mereka sendiri untuk tetap hidup kudus.

Persoalannya saya rasa di sini, maukah kita hidup kudus sebagai umat Allah? Tentunya, tak sekadar keinginan, tetapi langsung tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Dan ketika kita hidup kudus, kalau Allah berkehendak, Dia akan menjawab seruan kita!

BINA KASIH

Bagaimana dengan Bina Kasih. Sejak pagi saya merasa kasih Tuhan terhadap Bina Kasih, memang seperti yang tergambar dalam lagu tadi: ”Andaikan laut tintanya, langit kertasnya, ranting kalamnya, manusia pujangganya, takkan cukup mengungkapkan hal kasih mulia.”

Bina kasih telah merasakan kisah kasihnya bersama dengan Tuhan selama ini. Bersama Israel, Bina Kasih sejatinya juga ingin berkata: ”Sampai di sini Tuhan menolong kami.” Tiga puluh tahun bukan waktu sebentar. Dan Bina Kasih telah membuktikannya.

Sedikit contoh: menurut David Ellis, Direktur OMF Indonesia 1975-1982, ketika YKBK merintis proyek Tafsiran Alkitab Masa Kini (TAMK) banyak pihak yang meragukan tanggapan pasar menerimanya. Namun, sejarah menyatakan sebaliknya. Hingga kini TAMK-3 telah mengalami 16 kali cetak ulang. Itu memang kisah masa lampau. Tetapi, tidak mustahil terjadi lagi di masa datang kalau Bina Kasih tetap berseru kepada Tuhan.

Itu jugalah moto kami yang hendak kami terus hidupkan. Oleh karena itu, kami pun mengajak Saudara-saudara untuk tetap berseru kepada Tuhan. Bukan kebetulan jika kami menitip buku Berserulah Kepada-Ku karya Jim Cymbala sebagai kenang-kenangan.

Mari kita tetap berseru kepada Tuhan! Tak ada jalan lain, jika kita ingin seterusnya merasakan pertolongan Tuhan. Semasa hidupnya, Pak Oppu pernah berkata: ”Mustahil? Itu berarti Surga bekerja!”

Tetaplah berseru kepada Tuhan! Berserulah juga untuk kami, Yayasan Komunikasi Bina Kasih, yang sekarang ini merayakan tiga puluh tahun kisah kasih kami bersama Tuhan.

Amin.
YOEL M. INDRASMORO

sekum Bina Kasih

Silakan tulis komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s