Andaikan Yesus Kepala Daerah

Pernahkah Anda memikirkan hal ini: Bagaimana jika Tuhan Yesus menjadi kepala daerah di kota Anda?

Berdasarkan pengalamannya memimpin konferensi serta melatih para pemimpin gereja di negara-negara berkembang selama lebih dari 30 tahun, Bob Moffitt menulis buku ini. Tegas ia mengatakan bahwa gereja lokal dapat mengubah masyarakat sekitarnya Andaikan Yesus Kepala Daerahnya.

Agenda Allah bagi dunia ini ialah memulihkan segala sesuatu bagi kemuliaan nama-Nya. Visi ini perlu ditangkap oleh gereja untuk diejawantahkan dalam keseharian. Masyarakat sudah lama menunggu peranan gereja. Baca lebih lanjut

Sepanjang Tahun Menelusuri Alkitab

Maksud John Stott dengan buku ini adalah menyediakan sumber bagi ibadah harian pribadi, yang memungkinkan kita setiap tahun mengulang seluruh Alkitab dari penciptaan di kitab Kejadian hingga penggenapan di Kitab Wahyu. Refleksi harian ini mengikuti tahun gerejawi yang terbagi dalam tiga bagian yang sama lamanya, masing-masing empat bulan.

Kekhasan buku ini adalah: tahun gerejawi terbagi dalam tiga periode, Alkitab terbagi dalam tiga bagian, dan Allah yang Mahakuasa ternyata menyatakan Diri dalam tiga persona: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.Ketiganya mencakup seluruh cerita Alkitab.

Dalam periode pertama (September sampai Desember), kita merenungkan karya Allah Bapa dan bagaimana Dia menyiapkan umat-Nya sepanjang Perjanjian Lama untuk menyambut kedatangan Sang Mesias. Dalam periode kedua (Januari sampai April), kita merenungkan karya Allah Anak dan pelayanan-Nya yang menyelamatkan sebagaimana dilukiskan dalam kitab-kitab Injil. Dalam periode ketiga (Mei sampai Agustus), kita merenungkan karya Allah Roh Kudus dan kegiatan-Nya seperti tertulis dalam Kisah Para Rasul, Surat-surat, dan Wahyu.

Dengan mengingat, menghayati, dan merayakan kembali setiap tahun kisah Ilahi ini, kita dapat memperoleh:

  • iman Tritunggal yang teguh
  • peningkatan keakraban kita dengan kerangka dan isi Alkitab
  • pemantapan keyakinan kita akan Allah sejarah yang telah dan masih melaksanakan maksud-Nya sebelum, selama, dan sesudah kehidupan inkarnasi dari Tuhan kita Yesus Kristus sampai Dia datang kembali dalam kekuasaan dan kemuliaan.

Selamat menikmati hari-hari sepanjang tahun bersama Tuhan!

  • Rp 88.000,-

Engkaulah Penjunanku

Memahami kehidupan orang lain kadang seperti bercermin melihat diri sendiri. Ketika melihat kehidupan orang yang bertemu Tuhan, kita juga sering mendapat bagian untuk mengerti bagaimana Tuhan membentuk ciptaan-Nya. Dengan cara yang berbeda-beda, tanah liat itu menjadi bentukan-bentukan unik. Penjunan yang piawai itu tahu betul karakter setiap orang yang hendak dibentuk-Nya.

Kumpulan kehidupan tokoh-tokoh yang dipilih dalam buku kecil ini hendak  menggambarkan bagaimana Allah membentuk umat yang dikasihi-Nya. Dari mereka kita bisa melihat bahwa Allah tidak ”pandang bulu”. Semua tokoh itu berharga di mata Allah, mulai dari mereka yang hidup dari kalangan terpandang seperti imam, hingga gembala ternak yang sehari-hari bergelut dengan kesederhanaan dan kesunyian di alam terbuka.

”Engkaulah Penjunanku” diharapkan dapat menyadarkan kita bahwa diri kita pun berharga di mata-Nya. Sebab hingga saat ini Dia masih berinisiatif dan berkarya dalam membentuk kita. Lebih dari itu, seperti yang dilakukan-Nya terhadap tokoh-tokoh yang diuraikan dalam buku ini, Dia juga akan melibatkan kita dalam karya agung-Nya bagi dunia ini. Sehingga pada akhirnya, kita semua dapat mengaku di hadapan Tuhan, ”Engkaulah Penjunanku!”

  • Rp 30.000,-

Mari “Keluar dari TEMPAT GARAM Masuk ke dalam DUNIA”!

”Kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan Di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Kisah  Para Rasul 1:8b

Selamat Hari Pentakosta!

Ciri utama gereja yang misioner adalah setiap jemaatnya aktif bersaksi, di manapun dia ditempatkan. Namun berapa banyak jemaat gereja kita yang aktif terlibat dalam misi ini?

Salah satu permasalahan yang ditemukan Rebecca Manley Pippert, penulis buku Keluar dari Tempat Garam Masuk ke dalam Dunia, yang mungkin sama digumuli setiap gereja di Indonesia adalah ketakutan dalam bersaksi. ”Ketakutan kita dalam mengomunikasikan Injil benar-benar sama dari negara mana pun. Ke mana pun kami pergi (keliling dunia) kami mendengar keluhan:  Bagaimana kalau saya menyinggung orang lain? Bagaimana kalau saya ditolak? Bagaimana kalau saya tidak bisa menjawab pertanyaan mereka? Bagaimana kalau mereka melihat hidup saya tidak sempurna – bukankah itu membuat saya tidak memenuhi syarat untuk menjadi seorang saksi? Saya berupaya menjawab ketakutan tersebut di buku ini.”

Rebecca juga mengalami masalah sebagian besar kita dalam bersaksi ini. Karena itulah bukunya penuh pengertian dan banyak contoh nyata yang menguatkan pembaca.

“Dengan sukacita yang besar saya menyampaikan salam kepada pembaca buku saya di Indonesia!…  Tantangan untuk menjadi saksi Kristus di negara yang multikultural dan multiagama seperti Indonesia pastilah ada. Sekalipun demikian,  selalu ada cara yang membuat kita dapat berbagi iman (bahkan dengan mereka yang beda iman), dengan suka cita dan penuh rasa hormat. Kiranya Allah memakai Anda sebagai utusan-Nya menjadi garam dan terang, membawa pengharapan dan kasih dalam dunia yang hancur,  terluka, dan sangat membutuhkan Kabar Baik  Yesus.”

Pendiri Salt Shaker Ministries, pelayanan yang berfokus pada pengajaran & pelatihan penginjilan. Penasihat Senior bagi Global Evangelism by Lausanne Committee for World Evangelism. Trainer Senior dalam Penginjilan dan Seeker Studies dari International Fellowship of Evangelical Students.

Dunia yang hancur, terluka, sangat membutuhkan Kabar Baik.

Mungkin mereka ada di sekitar kita, termasuk kerabat maupun sobat.

Merekomendasikan buku ini berarti Anda:

  • Menguatkan hati jemaat yang ragu atau takut bersaksi
  • Mempersingkat sekaligus memperdalam sesi pelatihan misi khususnya Pekabaran Injil pribadi
  • Meningkatkan jumlah relawan misi di garis depan

Rabat khusus selama 2010 bagi gereja/panitia  yang merekomendasikan buku ini dalam kegiatan pembinaan misi & kesaksian pelayanan!

Buku dapat dibeli di toko buku Kristen,  Gramedia*, Gunung Agung* (*selama persediaan masih ada). Pesanan khusus, hubungi:
Arman 08158-063263, Heru 081317763070, atau kantor 021-4209586

Mari Bicara Tentang Surga

Surga biasanya mulai dibicarakan kepada anak-anak ketika ada kerabat yang meninggal dunia. Tentu saja, karena pertanyaan mereka tentang surga datang mendadak, jawabannya pun seadanya – tanpa persiapan.

Mengapa ini bisa terjadi? Umumnya, anak-anak usia di bawah 7 tahun dianggap belum mampu tahu tentang ‘dunia di atas sana’, sehingga hal surga jarang dibicarakan. Padahal di era digital saat ini, kemampuan berpikir visual mereka berkembang cepat. Bahkan, ada banyak film kartun anak-anak menyuguhkan kisah-kisah yang berkaitan dengan dunia spiritual, entah mengambil konteks zaman dahulu, atau di alam lain, melalui legenda-legenda mancanegara. Akibatnya, dalam dunia khayal anak gambaran visual surga makin jelas – entah sesuai dengan Alkitab atau tidak.

Justru karena melihat kenyataan dalam hidup sehari-hari inilah, orang tua harus lebih sigap dan perlu menanamkan pengertian tentang surga kepada anak sejak usia dini. Gereja, melalui kegiatan sekolah minggu dapat mendorong orang tua untuk mulai membimbing anak-anaknya dengan berbagai alat bantu. Buku MARI BICARA TENTANG SURGA dapat menjadi alat bantu yang layak dipertimbangkan.

Profil buku

Judul buku: Mari Bicara Tentang Surga
Penulis        : Debby Anderson
Penerbit      : Yayasan Komunikasi Bina Kasih
ISBN            : 978-602-8009-18-8
Tebal           : 32 hlm
Ukuran        : 21 x 28 cm
Harga          : Rp 30.000

Kesan Jumpa YUN si MANUSIA SURGAWI 17 April 2010

Seorang gadis kecil yang sudah dua kali membaca buku Manusia Surgawi menyatakan kekagumannya terhadap Yun yang berpuasa 74 hari tidak makan dan minum di penjara. Dengan tenang Yun menanggapi, ”Kekristenan kita tidak diukur dengan kemampuan kita berpuasa seperti itu. Bahkan pada waktu itu, saya mengatakan kepada Tuhan: lebih baik mati saja. Tapi Tuhanlah yang memberi kekuatan dan menentukan kapan harus berhenti berpuasa.” Memang bertemu dengan Yun dengan mata kepala sendiri berarti bertemu dengan seorang Kristen yang sederhana. Pengalamannya yang luar biasa tidak membuat sikapnya menjadi sok pahlawan.

Ketika diangkat kehebatan bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam 51 bahasa sedunia, Yun justru merendah, ”Anda tahu, ketika saya menyusun buku ini muncul dalam hati saya keinginan untuk menyerah. Kalau bukan Tuhan yang memberi visi kepada saya bahwa buku ini akan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, tentu saya telah berhenti menulis buku ini.” Nyatanya, memang banyak orang Kristen (bahkan yang bukan Kristen namun bertobat karena buku ini) bersaksi tentang berkat yang diperoleh saat membacanya. Beberapa ibu yang tidak punya kebiasaan membaca, menceritakan bahwa buku ini tidak lepas dari tangannya sejak mulai membacanya hingga dini hari ketika buku itu habis dibaca.

Seorang Kristen yang terlibat dalam pelayanan kepada para narapidana, Ibu Vina namanya, tak dapat menahan tangisnya saat pertama kali membaca kisah Yun, ”Akhirnya, saya menemukan buku yang benar-benar cocok untuk menguatkan orang-orang dalam tahanan.” Selama dua tahun ini dia terus memakai buku Manusia Surgawi untuk bersaksi kepada para tahanan tentang pengharapan kepada Kristus.

Seorang bapak, yang sudah lama terlibat dalam pelayanan, ingin tahu lebih dalam mengapa Yun disebut Manusia Surgawi. Kisahnya memang ada dalam buku, tapi Yun menceritakan bahwa istilah Manusia Surgawi lazim di Cina. Semua Kristen Cina berharap menjadi Manusia Surgawi sebagai lawan dari Manusia Duniawi. Hanya saja karena suatu peristiwa penangkapan, Yun mulai dikenal para petugas keamanan sebagai Manusia Surgawi. Dan makin terkenal dengan terbitnya buku berjudul Manusia Surgawi. Jadi, bukan Yun ingin dihormati sebagai Manusia Surgawi, bahkan sebaliknya Yun mengakui dirinya belum sepenuhnya surgawi!

Seperti kita semua, dia juga berjuang melawan godaan dan kelemahan. Dan dia menyadari sepenuhnya bahwa tanpa anugerah Yesus Kristus dalam hidupnya, dia sama sekali tidak berarti.  Dia bilang kepada istrinya, Deling, “Kita sama sekali tidak berarti.  Kita tidak punya apa-apa untuk dibanggakan.  Kita tidak punya kemampuan dan tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan kepada Allah.  Faktanya bahwa Dia memakai kita semata karena anugerah-Nya.  Bukan usaha kita. Jika Allah mengangkat orang lain untuk maksud-Nya dan tidak memakai kita lagi,  kita tidak berhak untuk protes.”

Demikian cuplikan laporan dari acara MEET & GREET BROTHER YUN di Toko Buku Immanuel dan kantor Bina Kasih pada hari Sabtu, 17 April 2010.

– arman widya